Jumat, 22 Juni 2012

belajar dari kekurangan :)


Aku pernah dianggap sombong ketika tak menyapa temanku karena pandanganku yang kabur. Aku memang gadis bermata minus yang tak suka memakai kacamata. Sebuah benda yang menggantung di depan mataku itu cukup membuatku risih ketika kubawa berjalan. Ya, kacamata ini hanya aku gunakan untuk melihat deretan tulisan di papan tulis saja ketika pelajaran berlangsung.

Sejak saat itu aku berpikir, mungkin ada baiknya jika aku menyapa siapapun dia yang bertemu denganku, daripada mendiamkannya dengan alasan tak berkacamata karena barangkali dia adalah orang yang sangat aku kenal, dan karena tak berkacamata jadi tidak sengaja tak kusapa.

Untuk menghindari hal serupa, aku selalu menyapa hampir semua orang yang berpas-pasan denganku dengan senyuman, mata yang berbinar-binar, dan dengan sapaan “hai” yang tak terlalu keras, namun cukup terdengar.

Seharian ini, aku telah bertemu dan menyapa banyak manusia justru karena pandanganku yang agak sedikit  kabur karena tak memakai kacamata.

Keesokan harinya seusai pelajaran, aku lupa meletakkan kacamataku ini dimeja, karena takut pecah jika ditaruh di saku, jadi terpaksa aku pakai.

Dengan  kacamata, aku bisa melihat mereka yang melintas di depanku, kini aku tak lagi menyapa siapapun selain yang benar-benar aku kenal dekat.

Tiba-tiba ada perempuan, yang sepertinya anak kelas satu menyapaku.
“halo mbak indhun” mukanya sumringah tanpa dosa.
Aku bingung, dia itu siapa ya? Kok kenal aku? Perasaan aku gak pernah ketemu dia, gak pernah kenal dia, ga pernah ngobrol sama dia?
Tapi berhubung aku orangnya ramah, baik hati, dan tidak sombong http://www.smileycodes.info  ya tak bales lah sapaan nya dengan muka yang nggak kalah sumringahnya.
“halo jga, eh btw, namamu siapa ya? Aku lupa. .hehe” kataku polos, sebenernya bukan lupa, tapi emang belum pernah kenal.
Habis itu kita malah jadi kenalan http://www.smileycodes.info , cerita ini itu, nglantur sana sini, seperti orang yang udah sangat akrab.

Taukah kamu siapa dia? Dia adalah orang yang aku sapa ketika mataku kabur kemarin. Katanya, sapaanku yang manis itu membuat dia menjadi cukup tenang disaat dia galau karena kesepian. Hahahalah. .mungkin karena aku adalah orang pertama yang menyapanya hari itu.

Aku cuma bisa tersenyum kecil mendengarnya, namun ada hal yang mengganjal hatiku kala itu. Kenapa aku harus menjadi orang yang memiliki ‘kekurangan’ dahulu untuk melakukan hal kecil yang baik dan begitu mudah dilakukan? Kenapa aku harus tak berkacamata dahulu, memaksa mataku untuk melihat dengan akomodasi maksimum walaupun masih tetap kabur untuk membagi senyum dan mengucap “hai” kepada mereka yang melintas dihadapanku.

Lihatlah betapa hal itu begitu menyenangkan untuk orang lain !




0 komentar:

Posting Komentar

hanya menulis apa yang aku pikirkan, tidak selalu yang aku alami ! :)

hanya menulis apa yang aku pikirkan, tidak selalu yang aku alami ! :)

kamu pengunjung ke -